Lubuk Basung, 20 Agustus 2025 – Dalam upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim, Universitas Negeri Padang (UNP) melalui SDGs Center dan Research Center for Climate Change (RCCC) ikut ambil bagian dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) multipihak pada Workshop “Peningkatan Pertumbuhan Lapangan Usaha Pertanian Melalui Pertanian Berkelanjutan Berbasis Iklim yang Inklusif” di Aula Bappeda Kabupaten Agam, Rabu (20/8).
Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si., selaku Kepala RCCC UNP sekaligus Koordinator SDGs 13 Perubahan Iklim UNP, menandatangani MoU bersama para pemangku kepentingan dari pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, dan organisasi pendukung pembangunan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Agam dengan fasilitasi LP2M Sumbar dan GIZ Jerman, serta didukung pembiayaan dari LP2M, GIZ, dan APBD Kabupaten Agam 2025.
Latar Belakang dan Tujuan
Workshop ini digelar untuk merumuskan strategi pertumbuhan sektor pertanian yang mampu menciptakan lapangan kerja, menjaga ketahanan pangan, dan mendorong pembangunan inklusif di tengah tantangan perubahan iklim. Kabupaten Agam saat ini berada pada zona merah kerentanan iklim, yang ditandai oleh menurunnya produktivitas padi, alih fungsi lahan, serta kerentanan kelompok rentan, khususnya perempuan.
Sambutan dan Arahan
Acara dibuka dengan laporan panitia dan sambutan Bupati Agam yang diwakili Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan. Dalam sambutannya, disampaikan arah kebijakan pertanian Kabupaten Agam melalui program unggulan seperti Nagari KDR berbasis sawah, konservasi kawasan, penguatan UMKM, dan penguatan ketahanan pangan. “Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menjawab tantangan produktivitas dan dampak bencana yang semakin nyata,” tegasnya.
Perwakilan GIZ, Bapak Zulasmi, menekankan pentingnya inovasi, seperti konsep sawah pokok murah, serta keterlibatan aktif peserta untuk mengembangkan solusi berbasis iklim. “Kita menghadapi ancaman nyata: menurunnya hasil pertanian, alih fungsi lahan, dan ketidaksetaraan gender. Inovasi dan kerja sama multipihak adalah jalan keluarnya,” ujarnya.
Paparan Narasumber
Beberapa materi utama yang disampaikan dalam workshop ini antara lain:
- Bappeda Kabupaten Agam: Arah kebijakan pembangunan daerah dan strategi pertumbuhan usaha pertanian berkelanjutan.
- Dinas Pertanian Kabupaten Agam: Strategi ketahanan pangan berbasis iklim, termasuk diversifikasi tanaman, kalender tanam adaptif, sekolah lapang petani, serta asuransi usaha tani.
- Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja: Peluang dan tantangan industri pertanian serta penyerapan tenaga kerja, dengan sorotan pada rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
- LP2M dan GIZ: Rancangan kemitraan multipihak (Multi-Stakeholder Partnership/MSP) untuk penguatan kolaborasi.
Komitmen UNP
Dalam kesempatan ini, Dr. Nofi Yendri Sudiar menegaskan komitmen UNP untuk mendukung inisiatif pertanian adaptif berbasis iklim dan pengarusutamaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui riset, inovasi teknologi ramah lingkungan, dan program edukasi bagi masyarakat.
“Kami siap mendukung implementasi MSP ini tidak hanya di level kebijakan, tetapi juga dalam pendampingan berbasis riset. UNP akan memastikan hasil penelitian kami relevan dan bermanfaat langsung bagi petani, UMKM, dan pengambil kebijakan. Kolaborasi ini sejalan dengan visi kami menjadikan kampus sebagai pusat solusi perubahan iklim,” ujar Dr. Cunop sapaan akrab beliau..
Hasil dan Komitmen Bersama
Kegiatan ditutup dengan diskusi perumusan Rencana Dasar Kemitraan Multi Pihak serta penandatanganan MoU. Dokumen ini menjadi dasar penguatan sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan organisasi pendukung untuk mendorong pertanian yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing di era perubahan iklim.