Research Center for Climate Change
Universitas Negeri Padang

Tim RCCC UNP Perkuat Penyusunan RPRKD Sumbar melalui Pendekatan UI GreenMetric

Provinsi Sumatera Barat tengah memasuki fase penting dalam perjalanan menuju pembangunan rendah karbon. Kick-Off penyusunan Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah (RPRKD) pada 13 November 2025 di Hotel Santika Padang menjadi momentum strategis untuk memastikan arah pembangunan daerah selaras dengan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pada kesempatan tersebut, tim RCCC UNP yang diwakili oleh Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si. dan Dezi Handayani, M.Si. berpartisipasi aktif dengan berbagi pengalaman penerapan pendekatan UI GreenMetric yang relevan untuk penguatan perencanaan rendah karbon di Sumatera Barat.

Kegiatan ini juga menghadirkan dua narasumber utama yang memperkaya diskusi dan memperjelas perspektif ilmiah pada level nasional dan regional. Narasumber pertama, Anna Amalia, Ph.D. dari Direktorat Lingkungan Hidup Bappenas, memaparkan arah kebijakan nasional terkait Agenda Pembangunan Rendah Karbon di tingkat nasional dan daerah. Beliau menegaskan pentingnya harmonisasi kebijakan pusat-daerah, integrasi data sektoral, serta komitmen jangka panjang untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
Sementara itu, narasumber kedua, Rakhmat Hidayat, Sumatera Regional Senior Manager WRI Indonesia, menyampaikan materi mengenai Perencanaan Berbasis Ilmiah untuk Mendukung Sumatera Barat sebagai Green Province. Ia menekankan penggunaan model system dynamics, pentingnya baseline yang kuat, serta perlunya skenario penurunan emisi yang realistis namun ambisius.

Kehadiran kedua narasumber tersebut memastikan bahwa RPRKD Sumbar disusun pada fondasi ilmiah yang kuat dan selaras dengan arah kebijakan nasional serta dinamika regional di Sumatera.

UI GreenMetric selama ini dikenal sebagai instrumen global penilaian kampus hijau, namun lebih dari itu, ia menyediakan kerangka indikator yang rinci, terukur, dan berbasis data—suatu pendekatan yang sangat selaras dengan kebutuhan RPRKD. Dalam forum Kick-Off tersebut, tim RCCC menunjukkan bagaimana logika dan metodologi pengisian borang GreenMetric dapat menginspirasi penyusunan kebijakan pembangunan rendah karbon yang sistematis dan ilmiah.

Ancaman Iklim yang Semakin Nyata di Sumatera Barat

Paparan Bappenas dalam Kick-Off memperlihatkan bahwa Indonesia sedang menghadapi tiga krisis lingkungan: perubahan iklim, polusi, dan penurunan keanekaragaman hayati. Bagi Sumatera Barat, dampaknya sudah terlihat melalui kejadian banjir bandang, abrasi pesisir, dan gangguan produksi pangan akibat perubahan pola curah hujan.

Proyeksi menunjukkan bahwa ketersediaan air Sumatera Barat dapat turun hingga 31,9% pada 2030, sementara 16,4% wilayah pesisir memiliki kerentanan tinggi terhadap abrasi dan kenaikan muka laut. Tanpa intervensi kebijakan yang terarah, dampak ini akan mengganggu ketahanan ekonomi daerah, terutama sektor pangan, perkebunan, dan perikanan.

Karena itu, RPRKD hadir bukan sekadar dokumen teknis, tetapi sebagai fondasi bagi ketahanan jangka panjang.

Pelajaran dari UI GreenMetric: Mengapa Relevan untuk RPRKD

UI GreenMetric menilai enam aspek utama: tata kelola, energi dan perubahan iklim, limbah, air, transportasi, dan pendidikan. Dari pengalaman tim RCCC dalam pengisian borang tersebut, terdapat tiga pembelajaran penting yang dapat langsung diadopsi dalam penyusunan RPRKD Sumbar:

1. Perencanaan Berbasis Data yang Konsisten

GreenMetric menuntut data terverifikasi terkait konsumsi energi, produksi sampah, penggunaan air, dan ruang hijau. Pendekatan yang sama diperlukan dalam RPRKD: baseline harus kuat, data lintas sektor harus selaras, dan semua kebijakan perlu ditopang angka yang jelas.

2. Indikator Kinerja yang Terukur

GreenMetric tidak menerima jawaban normatif. Semua harus dijelaskan dengan indikator kuantitatif—berapa pengurangan energi, bagaimana monitoring dilakukan, dan target apa yang dicapai. Prinsip terukur ini sangat relevan untuk penurunan emisi GRK di daerah, intensitas emisi sektor energi, dan peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup.

3. Kerja Kolaboratif

Tidak ada kampus yang bisa hijau tanpa dukungan fakultas, biro, dan mahasiswa. Begitu pula RPRKD, yang memerlukan sinergi provinsi, kabupaten/kota, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat. Forum Kick-Off menunjukkan kesadaran awal akan pentingnya ekosistem kolaboratif ini.

Mengadopsi Kerangka GreenMetric untuk Transformasi Rendah Karbon

Sumatera Barat memiliki modal ekologis besar, tetapi sekaligus menghadapi tantangan kompleks. Penerapan logika GreenMetric dapat membantu daerah melalui:

a. Tata Kelola Data Iklim yang Terintegrasi

Selama ini data masih tersebar di berbagai OPD. Pendekatan GreenMetric mendorong terbentuknya data governance terpadu sebagai dasar perencanaan dan evaluasi RPRKD.

b. Target Ambisius namun Realistis

Model system dynamics yang digunakan dalam penyusunan RPRKD memungkinkan proyeksi skenario—business-as-usual, moderat, dan ambisius. Pendekatan ini selaras dengan semangat GreenMetric yang menilai keberlanjutan sebagai proses peningkatan dari waktu ke waktu.

c. Penguatan Investasi Hijau

Indikator GreenMetric juga mengarah pada manfaat ekonomi: efisiensi energi, pengurangan limbah, transportasi rendah emisi, dan konservasi air. Ini dapat menjadi landasan bagi Sumbar untuk menarik pendanaan hijau, termasuk pembiayaan internasional seperti GCF.

Peran Strategis RCCC UNP sebagai Mitra Pemerintah Daerah

Dalam Kick-Off RPRKD, tim RCCC UNP menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk mendukung transisi rendah karbon melalui:

  • penyediaan data dan kajian ilmiah yang lebih presisi,
  • pelatihan metodologi perhitungan emisi bagi pemda,
  • literasi iklim untuk masyarakat,
  • penyediaan model best practice keberlanjutan melalui kampus hijau.

Dengan pengalaman teknis dalam GreenMetric, RCCC UNP mampu menjadi mitra strategis Pemprov Sumbar dalam menghasilkan dokumen RPRKD yang kuat, berbasis sains, dan aplikatif.

Dari Kampus Hijau Menuju Provinsi Hijau

Sumatera Barat memiliki potensi menjadi pelopor Green Province di Indonesia. Namun untuk mewujudkannya, diperlukan indikator yang terukur, tata kelola data yang solid, dan keterlibatan multi pihak. Pendekatan UI GreenMetric yang dibawa oleh tim RCCC UNP memberikan contoh nyata bagaimana keberlanjutan dapat diukur, dipantau, dan ditingkatkan secara bertahap.

Melalui kontribusi ilmiah dan kolaborasi yang terus diperkuat, RCCC UNP siap menjadi bagian dari transformasi Sumatera Barat menuju masa depan yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.