Padang — Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Negeri Padang (UNP) menyatakan kesiapan untuk memperkuat analisis geospasial Zona Rawan Bencana (ZRB) di Sumatera Barat sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab–rekon) bencana hidrometeorologi berbasis sains dan data.

Hal tersebut disampaikan Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si., selaku Kepala RCCC UNP, dalam diskusi akademik bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Kota Padang selasa malam tanggal 27 Januari 2026. Diskusi ini membahas penguatan peta risiko bencana yang menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan pascabencana, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan hidrometeorologi yang tinggi seperti Sumatera Barat.
Dalam pertemuan tersebut, Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Dr. Ir. Udrekh, S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa berdasarkan kesepakatan antara BNPB dan Bappenas, peta risiko bencana yang digunakan dalam perencanaan nasional saat ini adalah peta InaRISK skala 1:50.000. Peta ini berfungsi sebagai peta dasar atau Layer 1, yang menyediakan gambaran umum tingkat risiko bencana secara nasional dan regional.
Lebih lanjut disampaikan bahwa Zona Rawan Bencana (ZRB) dalam kerangka kebijakan tersebut diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu zona risiko tinggi, sedang, rendah, dan aman. Klasifikasi ini menjadi acuan penting dalam perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, serta penentuan kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Namun demikian, Dr. Nofi Yendri Sudiar menegaskan bahwa peta InaRISK skala 1:50.000 masih bersifat indikatif dan belum sepenuhnya memadai untuk kebutuhan operasional di tingkat daerah.
“Untuk penentuan lokasi spesifik rehab–rekon, relokasi permukiman, serta desain infrastruktur yang aman bencana, dibutuhkan Layer 2, yaitu peta ZRB dengan resolusi spasial yang lebih tinggi sehingga pembagian zona tinggi, sedang, rendah, dan aman benar-benar mencerminkan kondisi lapangan,” jelasnya.
Layer 2 tersebut memerlukan proses penajaman dan verifikasi ilmiah melalui integrasi berbagai sumber data geospasial, seperti model elevasi digital (DEM) resolusi tinggi, citra satelit resolusi tinggi, data historis kejadian hidrometeorologi, karakteristik daerah aliran sungai (DAS), kondisi geologi dan geomorfologi, serta data sosial dan kerentanan masyarakat.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa peta ZRB yang dihasilkan memiliki validitas ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai dasar kebijakan publik. Oleh karena itu, penguatan analisis ZRB dilakukan melalui Konsorsium Perguruan Tinggi di Indonesia yang dibentuk untuk mendukung pemetaan dan evaluasi risiko bencana nasional.
UNP merupakan bagian dari konsorsium perguruan tinggi tersebut, dengan posisi sebagai ko-koordinator bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), sementara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bertindak sebagai koordinator konsorsium. Melalui peran ini, UNP berkontribusi aktif dalam penguatan analisis geospasial, khususnya untuk wilayah Sumatera dan kawasan rawan bencana hidrometeorologi.
“Perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai penyedia data, tetapi juga sebagai penjaga kualitas ilmiah peta risiko bencana yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan,” ujar Dr. Nofi.
RCCC UNP memandang keterlibatan dalam konsorsium nasional ini sebagai bagian dari upaya memperkuat jembatan antara sains dan kebijakan (science–policy interface). Dengan dukungan keilmuan di bidang geospasial, iklim, dan kebencanaan, perguruan tinggi diharapkan mampu memastikan bahwa peta ZRB beresolusi tinggi benar-benar mencerminkan kondisi risiko aktual serta adaptif terhadap dinamika perubahan iklim.
Selain meningkatkan ketepatan sasaran program rehabilitasi dan rekonstruksi, penguatan peta ZRB juga dinilai penting untuk mengurangi potensi konflik tata ruang pascabencana dan mendorong pembangunan wilayah yang lebih aman dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara BNPB, Bappenas, pemerintah daerah, dan konsorsium perguruan tinggi, RCCC UNP menegaskan komitmennya untuk berperan aktif dalam pengembangan analisis geospasial Zona Rawan Bencana di Sumatera Barat sebagai bagian dari kontribusi akademik dalam pengurangan risiko bencana nasional.